TANTANGAN DAN ALTERNATIF PEMBELAJARAN DI ERA DIGITAL

Rini Pepa Wiratin, S.Si., MT.


Pengembang Teknologi Pembelajaran Pertama LPMP Jawa Barat

Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar, Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksikan pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran (Undang – Undang Sisdiknas No. 20, 2003), dengan demikian seorang peserta didik setelah mengikuti pembelajaran dapat menguasai dan memiliki keahlian sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dalam setiap pembelajaran tersebut.

Perkembangan revolusi 4.0 dengan kemajuan teknologinya telah mengubah peradaban manusia termasuk dalam sektor pendidikan dan lebih khusus dalam bidang pembelajaran baik itu bagi siswa ataupun guru sebagai pendidik,  (Ridho, 2018) menyatakan bahwa perubahan tersebut meliputi perubahan yang terjadi pada peserta didik meliputi cara berfikir (the ways of thinking), cara belajar (the ways of learning) dan cara bersikap (the ways of behave). Sejak terjadi pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan dari yang semula berorientasi pada guru  menjadi berorientasi pada siswa.


https://ceknricek.com

PESERTA DIDIK PADA SAAT INI ADALAH SEORANG YANG LAHIR DAN BERKEMBANG DI ERA DIGITAL, SEDANGKAN MAYORITAS PENDIDIK ADALAH SEORANG YANG LAHIR SEBELUM ERA DIGITAL, PERBEDAAN INI AKAN MENJADI TANTANGAN DALAM PERKEMBANGAN PROSES BELAJAR MENGAJAR ANTARA PENDIDIK DENGAN PESERTA DIDIK DI KELAS.



Selain itu sarana dan prasana untuk mendukung pembelajaran yang dimiliki masih sangat kurang, hal ini diperkuat berdasarkan hasil rapor mutu  pendidikan tahun 2018 di Provinsi Jawa Barat, capaian terendah ada pada standar PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dan Sarpras (Sarana dan Prasarana), pada standar PTK capaian masih berada pada kategori menuju SNP 3 untuk jenjang SD (3.95)  dan SMA (3.41), sedangkan jenjang SMP (3.25) dan SMK (2,98) masih berada pada kategori menuju SNP 2, untuk  Sarpras berada pada kategori menuju SNP 3 untuk Jenjang SD (3,86), SMP (4.01) dan SMA (4,42) sedangkan untuk jenjang SMK (2,97) masih berada pada kategori menuju SNP 2, dari data tersebut mengindikasikan bahwa inti permasalahan berada pada SDM (Sumber Daya Manusia) dan Sarana Prasarana pembelajaran.


https://www.milenial.info

Seorang pendidik diharapkan dapat membantu peserta didik untuk mencapai keterampilan yang dibutuhkan di era digital ini (Abad 21), (Baswedan, 2019) menyatakan bahwa kebutuhan peserta didik adalah (1) mempunyai kualitas karakter yang baik artinya bagaimana mereka dapat beradaptasi pada lingkungan yang dinamis , karakter tersebut meliputi : nilai pancasila, ketakwaan, integritas, rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, kemampuan adaptasi, kepemimpinan dan kesadaran sosial dan budaya, (2) mempunyai kemampuan dalam literasi dasar artinya bagaiaman peserta didik menerapkannya dalam kehidupan sehari hari yang meliputi : literasi baca tulis, berhitung, sains, teknologi dan komunikasi, finansial, budaya dan kewarganegaraan, serta (3) mempunyai kompetensi dalam memecahkan masalah yang kompleks yaitu berpikir kritis, kreatifitas, komunikasi dan kolaborasi.

dok : lpmpjabar.go.id

Sehubungan dengan permasalahan tersebut hal yang dapat dilakukan adalah dengan cara pendekatan sistem dan peningkatan kompetensi pendidik secara langsung. Pendekatan Sistem dapat dilakukan melalui perangkat kelembagaan dalam hal ini  Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat sesuai dengan tusinya membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan, LPMP telah mengadakan langkah nyata yaitu dengan melaksanakan road show ke setiap Kabupaten/Kota dalam bentuk kegiatan audiensi, pada kegiatan tersebut Tim LPMP Jawa Barat mensosialisasikan  hasil analisis dan rekomendasi capaian 8 SNP berdasarkan rapor mutu pendidikan tahun 2018 di setiap Kabupaten/Kota, kegiatan audiensi dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan yang terkait, harapannya pemerintah daerah dapat menindaklanjuti rekomendasi sesuai dengan kewenangannya dan bekerjasama dengan LPMP  Jawa Barat melalui program yang telah disusun, sehingga dengan adanya tindak lanjut sekaligus dapat menyentuh peningkatan kompetensi pendidik, selain itu untuk meningkatkan kompetensi pendidik, LPMP Jawa Barat melalui Fungsional Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) memberikan fasilitasi kepada pendidik untuk meningkatkan kompetensinya dalam pengembangan teknologi dan kualitas  pembelajaran di kelas yaitu dalam bentuk bimbingan teknis terkait (bimtek) dengan pemanfaatan portal rumah belajar yang dikembangkan oleh Kemendikbud melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom).

Dengan adanya sinergi pemerintah pusat dan daerah untuk melaksanakan program – program terkait peningkatan mutu pendidikan khususnya untuk peningkatan kompetensi pendidik dapat merubah pola pikir, sikap dan tindakan dengan bertambah kemampuannya untuk menggunakan sarana teknologi dalam proses pemebalajaran , sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh peserta didik yaitu adanya pengalaman pembelajaran yang berbeda dan menyenangkan dan selanjutnya dapat meningkatkan capaian kompetensi peserta didik.

Daftar Pustaka

Undang – Undang Sisdiknas No. 20. (2003). Jakarta: Kemendiknas.

Baswedan, A. (2019). Transdormasi Pendidikan di Ibu Kota. Jakarta: Seminar Nasional Millennia. Ridho, M. (2018).

Menjadi Guru di Era Digital. https://geotimes.co.id/opini/menjadi-guru-di-era-digital-2/.