Guru Daerah Terpencil Tidak Boleh Tertinggal

Doc. surya.co.id
Li Congshu mengantar siswanya pergi ke sekolah menggunakan perahunya. 

LPMP Jabar, Jakarta – Seorang guru sekolah dasar (SD) daerah tertinggal menjadi salah satu pemenang pada lomba inovasi pembelajaran (Inobel) yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) pada 17 – 21 September 2018 di Bali.

Edi Ahram, guru SD Negeri Lalowata, Kecamatan Latoma, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara mengalahkan 33 orang peserta lain yang berasal dari berbagai wilayah di Tanah Air. Di antaranya dari provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur yang telah lama menjadi barometer pendidikan nasional.

Ahram, guru yang sekolahnya belum tersentuh pembangunan, berhasil menjadi yang terbaik dalam Perlombaan Inobel Pendidikan Dasar Tingkat Nasional untuk bidang lomba Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) SD.

“Sebagai (guru) daerah terpencil, kami memang terbatas dari segala fasilitas, sarana, sehingga mendorong saya untuk membuat beberapa inovasi pembelajaran, diantaranya “Mega Sigra” atau Media Peraga Simulasi Gerhana,” cerita Arham tentang karyanya tersebut.

Dia berharap bisa menjadi guru yang bisa menjadi inspirasi bagi guru-guru lain, terutama yang bertugas di daerah khusus.

“Jangan karena terpencil, mau dikucilkan. Kemudian karena kami di daerah tertinggal, kami mau ketinggalan,” ucap Ahram, Kamis (20/9/2018).

Sebagai salah satu pemenang Inobel, Ahram memperoleh uang pembinaan sebesar Rp10 juta, beserta laptop dan piagam penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

Rupanya, selain Inobel, Ahram pernah meraih penghargaan terbaik kedua pada ajang Pemilihan Guru Beprestasi dan Berdedikasi Tahun 2018 yang diadakan Kemendikbud dalam rangka menyambut hari kemerdekaan RI ke-73.

Keberhasilan Arham dan para pemenang lainnya dalam Perlombaan Inobel Pendidikan Dasar Tingkat Nasional Tahun 2018 disambut baik oleh Plt. Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Muhammad Qudrat Wisnu Aji.

Sekretaris Ditjen GTK sekaligus Plt. Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Muhammad Qudrat Wisnu Aji memberikan penghargaan kepada beberapa guru yang berhasil memenangkan lomba inovasi pembelajaran (Inobel) yang berlangsung dario 17 - 21 September 2018 di Bali.

Sekretaris Ditjen GTK sekaligus Plt. Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Muhammad Qudrat Wisnu Aji memberikan penghargaan kepada beberapa guru yang berhasil memenangkan lomba inovasi pembelajaran (Inobel) yang berlangsung dario 17 – 21 September 2018 di Bali.(DOK Dirjen GTK Kemendikbud)

Dalam rilis yang Kompas.com terima, Senin (1/10/2018), pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Ditjen GTK tersebut pada acara pemberian penghargaan kepada pemenang Inobel mengingatkan, pembelajaran abad ke-21 menuntut guru untuk mampu mengembangkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan.

Cara itu diperlukan agar mereka bisa menghasilkan peserta didik yang memiliki keahlian berpikir kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif.

Menurutnya, Inobel bertujuan untuk menjawab tantangan tersebut. Dia juga mengimbau agar karya-karya para pemenang dan finalis lomba dapat diadopsi, diadaptasi dan diimplementasi guru-guru lain di daerah masing-masing. BACA JUGA: Tingkatkan Kualitas Pendidikan Dasar, Kemendikbud Luncurkan “PINTAR”

Perlombaan Inobel Pendidikan Dasar Tingkat Nasional merupakan gelaran rutin yang diselenggarakan Ditjen GTK sebagai ajang peningkatan mutu dan kompetensi pembelajaran.

Pesertanya merupakan guru SD dan SMP yang berasal dari 34 provinsi. Para peserta tersebut kemudian diseleksi dalam berbagai tahapan, termasuk di dalamnya uji plagiarisme, similarity dan sitasi atas naskah karya Inobel yang dilombakan.

Selain untuk jenjang pendidikan dasar, Ditjen GTK pada 2018 ini juga akan menyelenggarakan perlombaan Inobel untuk guru-guru jenjang TK dan PAUD serta SMA dan SMP pada bulan November mendatang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Guru Daerah Terpencil Tidak Boleh Tertinggal”,  https://edukasi.kompas.com/read/2018/10/02/11234941/guru-daerah-terpencil-tidak-boleh-tertinggal?page=all.
Penulis : Anissa Dea Widiarini
Editor : Mikhael Gewati