Pancasila Dapat Jadi Geopolitik Dunia


Gubernur Lemhanas Agus Widjojo di Sekolah Pascasarjana, Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, di Jakarta.
MI/ADAM DWI

PANCASILA dapat menjadi dasar untuk merancang model geopolitik dunia yang sarat dengan kepentingan dan pengaruh kekuasaan berbeda.

Pancasila juga mengatur nilai dasar yang memungkinkan kompromi, dialog, dan negosiasi jadi penekanan­ utama dalam mengatasi perbedaan.  

Menurut peneliti politik dari Harvard University dan Rand Corporation, Jonah Blank, Pancasila selain menjadi dasar dari demokrasi di Indonesia, ternyata Pancasila dapat menjadi inspirasi bagi negara lain untuk membangun strategi geopolitiknya.

Jonah menekankan Pancasila memiliki aspek yang memungkinkan toleransi menjadi salah satu cara menjaga hubungan antarbangsa.

“Saya pun berharap negara lain dapat mempelajari Pancasila, khususnya nilai-nilai toleransi dan harmoni yang terkandung di dalam ideologi Indonesia itu.”

Pancasila menjadi salah satu pembahasan dalam Jakarta Geopolitical Forum yang diselenggarakan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI.

Dalam pidatonya saat menutup forum, Gubernur Lemhannas Agus Widjojo menjelaskan Pancasila merupakan ideologi bangsa yang mewadahi berbagai macam perbedaan rakyat Indonesia.    

“Problem dunia yang kita lihat ini dengan geopolitiknya ialah masalah perbedaan. Geopolitik dunia itu sebetulnya Indonesia dalam ukuran makro, sangat global,” terang Agus.    

Oleh karena itu, Pancasila dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi para pakar, ahli, praktisi, dan pemangku kebijakan untuk merancang strategi geopolitik global yang mengakui perbedaan sebagai kondisi mutlak atau tidak dapat dihindari negara-negara di dunia.    

Geopolitics Forum 2019 merupakan acara diskusi panel yang diadakan Lemhannas secara rutin tiap tahun sejak 2017.

Ajang ini juga sebagai forum bagi para ahli dan praktisi untuk berbagi pandangan mengenai model geopolitik dunia yang dapat mengatasi isu global seperti terorisme dan krisis pengungsi.­    

Wacana geopolitik

Acara yang dibuka Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu itu diisi dua sesi diskusi dengan delapan pembicara dari Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Tiongkok, dan Australia.    

“Secara umum, saat kita mengikuti perkembangan geopolitik, ini tidak berjalan linier dan mudah diantisipasi seperti masa lampau. Geopolitik yang berkembang sekarang begitu volatile (rentan berubah) sehingga kerap memunculkan fenomena yang tidak kita dapat duga. Itu yang kemudian kita sebut disarray,”kata Agus.

Agus menyebutkan negara-negara dunia perlu menyepakati wacana normal yang baru pada strategi geopolitiknya.

Pemahaman geopolitik yang sama memudahkan negara-negara di tingkat kawasan dan dunia untuk bekerja sama memecahkan persoalan global, seperti pengungsi­ dan terorisme.    

“Kita punya kultur yang sulit keluar dari zona nyaman. Dengan pendidikan kita siapkan generasi mendatang luwes terhadap perubahan,” imbuh Agus.

Oleh : Golda Eksa
Sumber :
https://mediaindonesia.com/read/detail/262186-pancasila-dapat-jadi-geopolitik-dunia?utm_source=dable